Sabtu, 08 September 2012

inikah jalan dakwah..???

cerpen ini juga dapat dibaca disini

Aku kian mempercepat langkah kakiku, acara kajian rutin di kampus akan segera dimulai, sedang makanan untuk konsumsi masih aku bawa. mungkin bukan sepenuhnya salahku siih, aku tak bisa berkrompromi dengan si blacky untuk tidak ngambek dulu selama perjalanan ke kampus, di tengah perjalanan ban blacky pecah dan terpaksa harus didorong sampai ke tempat tambal ban yang yaahh..lumayan rada jauh, dan itu yang menyebabkan aku terpaksa telat.

Sesampai di masjid kampus, aku bergegas masuk, aku rasa sangat telat kali ini, dan taukah kamu apa yang kulihat, segelintir orang dengan ekspresi yang datar diiringi lantunan musik nasyid yang membuat ngantuk.
Hmmmm…ternyata telatku selama 45 menit itu belum apa-apa, acara bahkan belum dimulai. Peserta nya dapat ku hitung dengan jari… 1…2…3…4…5…6…7…8… Yah akhwatnya ada 8 itu sudah termasuk aku, dan ikhwan nya….. Hhmm…. ada 5… Waww… Itu sudah angka yang lumayan ada kemajuan dibanding minggu kemarin cuma ada 3.

Aku duduk meluruskan nafasku yang masih belum kembali sempurna, menarik nafas panjang sembari memperhatikan sekitar, di masjid ini ada beberapa kelompok orang yang sedang sibuk dengan obrolan mereka, sebagian bersantai menikmati sajian suasana sejuk masjid kampus yang alami. Aku mulai berpikir tak kah mereka tertarik melihat acara yang sedang akan berlangsung di tengah lantai masjid ini, terlebih ada lantunan nasyid dan MC acara sudah memberi pengumuman acara akan segera dimulai. Ahh…mungkin memang belum begitu menarik bagi mereka.

Aku memperhatikan wajah-wajah peserta yang datang, aku mengenali beberapa dari mereka, tapi sayang nya aku tak menemukan wajah-wajah saudari-saudari yang ku kenal erat di antara mereka. Yah saudari yang biasanya begitu dengan lantang berteriak bahwa dakwah kampus ini akan jaya pada waktunya, saudari-saudari yang biasanya duduk manis di depan meja dan biasa merancang agenda-agenda seperti ini…hhmm…mungkin mereka sibuk” bela batinku

Acara kajian rutin berjalan biasa seperti minggu-minggu sebelumnya. Selesai kajian aku memilih untuk diam sejenak di masjid sembari menanti shalat Ashar. Di sudut masjid aku seperti mengenal sosok akhwat yang sedang asik dengan laptopnya, yah…dari perawakan nya dia seperti nya “Asti”, teman ku dari seberang yang juga kuliah di kampus ini. Aku menghampiri akhwat itu dan memastikan dia adalah Asti, ternyata benar akhwat itu Asti, dia ketua OSIS di SMA ku dulu.
Obrolan awalku dengan isti persis acara reuni, isti juga sedikit kaget melihatku berjilbab lebar, dan katanya terlihat seperti emak-emak, aku mengelus dada saja deh kalau sudah penilaian nya seperti itu.

“Kamu ngapain di kampus mi” tanya isti di tengah obrolan kami
“Ini ngebantuin nyiapin konsumsi buat kajian di bawah” jawabku jelas
“Berapa tahun di UKM itu mi”
“Yah…hampir 2 tahun laa”…
“Terus…kamu dah belajar apa aja mi”
“Banyak benget…aku belajar dari kajian2 yang biasa ku siapin snacknya”
“Ahh… 2 tahun kok kerjaan mu cuma nyiapin snack sii??”…Apa kamu juga belajar organisasi, apa kamu pernah nyumbangin ide, dan mereka denger pendapatmu?? Apa kamu pernah ngerasa diri kamu berkembang dengan ngurusin snack tiap agenda..?? Tanya isti tak memberi celah untuk aku menjawab pertanyaan nya.
Apa kamu tau gimana caranya bikin acara sukses selain dengan nyiapin snackmu itu mi?? Kayak matengin acara gimana, publikasi itu gimana caranya, dan yah…kayak UKM yang lain laa, soo…kamu gak matengin diri kamu sama dengan satu kemampuan mi”… isti memandang wajahku yang memerah

Aku memilih tersenyum, aku tak mengerti harus menjawab apa, bagiku amanah untuk hal semacam ini juga amat sangat menyenangkan, sambil belajar juga sambil beramal dah…
“Kasian aja mi,..Nanti di mana teman2mu yang lain sudah matang di lapangan, dan sudah berketerampilan dalam sosialisasi dan ilmu organisasi nantinya kamu sampai tidak digunakan lagi cuma bisa ngurusin konsumsi” kata-kata isti kian tajam.

Azan Ashar berkumandang, aku memilih untuk segera mengambil wudhu dan tidak mengambil pusing dengan kata-kata isti.

Tapi ternyata kata-kata itu tak hilang, dan terus hinggap meracuni otak ku.
Yah…aku mencoba membela keadaan yang memang serasa tak begitu berpihak padaku
Aku yang baru belajar, dan mungkin baru batas ini yang dapat ku bantu untuk menyukseskan jalan dakwah di kampus ini. Pergolakan batin mulai terasa menyesakkan dada.

“Lalu mana pengurus inti yang memberi ide-ide acara itu mi?? Ke mana mereka yang selalu ber koar-koar agar tetap semangat di jalan dakwah”??? Batin ku berontak
“Mereka mungkin sibuk, terlebih banyak agenda” rayuku dalam hati agar tak semakin jadi
“Hoo…lalu kamu tidak sibuk mi?? Padahal kamu juga punya banyak agenda dan bukankah kamu akan besok juga menghadapi ujian semester sama seperti mereka?? Ke mana saudari-saudari mu itu mi??
“Owhh…saudari-saudari…kamu menganggap mereka sebagai saudari, apa mereka pernah bertanya sedikit pun atau sekedar menanyakan bagaimana kabar saudarinya?? Bukan kah mereka hanya menghubungimu jika ada agenda yang kekurangan SDM nya, dan yah…lagi-lagi kamu mengurusi urusan perut mereka!!!  Itu kah ukhuwah mi”…???Huuhh… itu terlihat seperti babu…
Ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan. Bukan pula pada manisnya ucapan di bibir. Tapi ukhuwah terletak pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya”, belaku lagi.
 “Lalu ke mana para alumni mi?? Kamu masih amat sangat bodoh dan dianggap tak pantas mi, pendapatmu pun tak berbobot untuk memperbaiki keadaan jalan dakwah yang rapuh ini…

Keringat dinginku bercucuran, jiwa ku gelisah dalam pemberontakan hati…aku bergegas mengambil wudhu lagi dan beristighfar berulang-ulang. Air mataku mengalir menumpahkan emosi yang sesaat meluap, aku menyadari banyak hal yang tak ku pahami di jalan dakwah yang biasanya ku sebut-sebut, banyak karakter dan perlakuan yang terkesan tak adil. Pertanyaan demi pertanyaan yang menyudutkan keberadaanku, tentang sebuah peran yang ku sandang selama dua tahun berturut-turut.

Yah…aku hanya mengurusi soal perut, bagaimana cara agar dana konsumsi tak membengkak, dan aku sangat tau soal itu… terkadang aku tak tau acara semacam apa, aku hanya dihubungi secara tiba-tiba…
Dan apa benar di sini sebuah keluarga, yah jika benar-benar keluarga, bukankah keluarga yang baik anggota keluarga nya selalu saling merindu, saling berkunjung ke rumahnya???
“..Hmmmm…Aku tak yakin bahwa kantor UKM itu sering dikunjungi, terlihat dari tebalnya debu yang menempel di meja, dan tulisan di papan tulis yang tak pernah terhapus dari minggu- ke minggu…”

“Tapi aku percaya kita saling mendoakan di jalan ini, dengan peran kita masing-masing”..Aku menarik nafas panjang diiringi dzikir yang tak henti.

Aku mulai mencoba tersenyum simpul, aku ingat dulu sewaktu training kader kami pernah menggenggam tangan satu sama lain, bahwasanya kami akan saling menguatkan, seperti kuatnya genggaman tangan kami saat itu.

Apapun yang kulakukan, apa pun kontribusiku dalam perjalanan yang semakin hari akan terasa sulit dan banyak godaan. Cukup semua usaha karena Allah.

‘Percaya bahwa Allah yang akan mengganti semuanya, setiap langkah ada perhitungan nya, setiap tetes keringat akan dibayar ampunan Nya, setiap kesedihan diganti kelapangan dari Nya,
Di sini ditempa bukan hanya sebagai orang yang mampu untuk berteriak-teriak tentang Islam dan memberi ide yang cemerlang… Tapi…belajar tentang keikhlasan dalam beribadah karena Allah
Seperti cerita batu bata dalam sebuah bangunan, bahwasanya tiap batu bata punya peran untuk mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh, tak peduli ia sebagai batu bata yang disusun di mana saja, tersudut sekalipun… tetap saja batu bata itu adalah bagian dari pembentukan sebuah bangunan yang kokoh..

Aku menarik nafas panjang, menikmati semilir angin yang turut mencoba meredakan emosiku. Semoga tak ada lagi yang sesaat merasa sepertiku, dan Allah menjaga kita dalam sebuah ketulusan dan keikhlasan.
“untuk saling mengingatkan bukan menghakimi, saling memberi semangat bukan menyudutkan…saling berjuang bukan saling menjatuhkan”.

QS. Ali Imran: 104: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
 
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kamu menjumpai kemunkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangan (kekuasaan)nya, apabila tidak mampu hendaklah dengan lisannya, dan jika masih belum mampu hendaklah ia menolak dengan hatinya. Dan (dengan hatinya) itu adalah selemah-lemahnya iman”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar